Terkait Anjloknya Harga Sawit, Ternyata Ini yang Dikeluhkan Petani

06.07.2018.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Ricky Gunarwan, mengatakan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang melemah di pasar dunia berpengaruh terhadap harga buah sawit di tingkat petani. "Harga minyak mentah sawit di pasar internasional memang melemah sehingga berdampak langsung ke harga buah sawit," kata Ricky di Bengkulu, Jumat

Saat konferensi pers menanggapi anjloknya harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani, Ricky mengatakan meski harga CPO melemah, pemerintah daerah telah menetapkan harga pembelian sawit di tingkat pabrik sebesar Rp1.200 per kilogram.

Penetapan harga tersebut sesuai dengan hasil rapat antara pihak terkait yakni pemerintah daerah bersama pengusaha pemilik perusahaan perkebunan kelapa sawit besar yang ada di daerah ini. Untuk itu, lanjutnya, dinas terkait itu membuka layanan pusat informasi bagi petani untuk menampung aspirasi dan pengaduan tentang penyimpangan harga jual TBS yang diberlakukan perusahaan pemilik pabrik pengolah buah minyak menjadi minyak sawit mentah (CPO).

Sebelumnya, petani sawit mengatakan bukan persoalan harga pembelian di pabrik yang menjadi masalah namun pembatasan pembelian oleh pabrik pengolah sawit. "Persoalannya, antrean panjang kendaraan menuju pabrik sangat panjang dan bisa berhar-hari dan buah yang ada tidak tertampung oleh pabrik," kata Herwan Saleh, petani Desa Talang Saling, Kecamatan Seluma, Kabupaten Seluma. Ia mengatakan dari tiga pabrik pengolah sawit di Kabupaten Mukomuko, hanya satu pabrik yang mengolah buah sawit dari petani mandiri. Sedangkan dua pabrik lainnya milik PTPN VII dan PT Agri Andalas juga mengolah sawit produksi kebun sendiri.

Akibatnya kata Herwan, pasokan buah sawit yang tersendat ke pabrik membuat para pedagang pengepul atau tauke menghentikan sementara pembelian sawit petani. "Sawit petani dibiarkan membusuk baik di batang maupun yang sudah dipanen karena tidak ada yang membeli," kata dia. Petani sawit lainnya, Yuherdi mengatakan harga sawit yang sudah anjlok ke harga Rp500 per kilogram pun tidak bisa dinikmati petani karena tidak ada tauke yang menampung buah sawit petani.